Jumat, 08 September 2017

Candi-Candi di Malang

1. Candi Singosari

Salah satu peninggalan bersejarah di Malang adalah candi Singosari. Dikenal juga dengan candi Kendedes, dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singasari yang meninggal tahun 1292. 

Didirikan tahun 1300 bersamaan dengan diselenggarakannya upacara shrada ditempat ini. Ciri khas candi singasari adalah dua arca raksasa Dwarapala, yang diyakini sebagai penjaga istana.

2. Candi Jago


Candi jago atau jajaghu didirikan antara tahu 1275 - 1300 M. dipercaya sebagai tempat penguburan abu raja Wisnuwardhana, raja ke 4 Singhasara. 
Memiliki hiasan ornamen yang indah, identik dengan candi penataran di Blitar. Terletak di desa Jago kec Tumpang sekitar 22 km arah timur kota Malang.
 
3. Candi Kidal
 
Candi Kidal memiliki tinggi 17 meter, namun sekarang tinggal sekitar 12,5 meter. Memiliki pondasi persegi empat, dengan pintu candi menghadap ke timur. Diatas pintu candi terdapat kepala raksasa dan singa dan memiliki ornamen cuplikan kisah mahabharata. Candi ini terletak di desa Rejo Kidal kec Tumpang, sekitar 24 km arah timur Malang.
 
4. Candi Badut
 
 Candi Badut terletak di Dukuh Gasek, Desa Karang Besuki, Kesamatan Dau, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Candi Badut terletak di kaki Gunung Kawi.  Candi Badut diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. 
Kata Badut di sini berasal dari bahasa sansekerta “Bha-dyut” yang berarti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya. Hal itu terlihat pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak nyata dari Siwa dan Parwati dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding luar terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung utara terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Relung timur terdapat arca Ganesha. Dan disebelah Selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai Mahaguru. Namun diantara semua arca itu hanya arca Durga Mahesasuramardhini saja yang tersisa. 
 
5. Candi Sumberawan
 
Candi Sumberawan hanya berupa sebuah stupa, berlokasi di Kecamatan Singosari Malang. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini Merupakan peninggalan Kerajan Singhasari dan digunakan oleh umat Budha pada masa itu.
Candi Sumberawan terletak di desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, +/- 6 Km, di sebelah Barat Laut Candi Singosari, candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran P. 6,25m L. 6,25m T. 5,23m dibangun pada ketinggian 650 mDPL, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Karena itulah disebut Candi Sumberawan.
 

Jagoan Kuliner Pedas Di Malang

1. Sambal Mak Tin

Bagi Anda penggemar kuliner pedas, wajib mampir ke warung Sambal Mak Tin. Sambal Mak Tin menawarkan konsep rumah makan nuansa tradisional prasmanan dengan 50 varian sambal.
Di warung makan milik Nanang Suherman ini, pengunjung bisa bebas mengambil nasi dan aneka lauk mulai dari cah kangkung, cah jamur, ayam goreng bebek goreng, tahu tempe, manuk goreng dan bebek ayam mecucu, yang paling populer.
Soal harga jangan kuatir, karena makan di Sambal Mak Tin satu porsinya cukup murah 8000-25000 rupiah saja.
Sambal Mak Tin buka 24 jam, dan ada kopi gratis bagi yang berkunjung ke warung jam 24.00-08.00 WIB.
Sambal Mak Tin ada dua cabang di Malang yaitu di Jalan Sunan Kalijaga Kavling 3 nomor 1 Kompleks Ruko DaQu belakang kampus UIN Malang dan di MT Haryono samping rumah makan padang murah depan Ivan Cell.

2. Ayam Goreng Nelongso
Berdiri sejak bulan Februari 2013, dengan menyewa sepetak pujasera di Jl.Sukarno Hatta Malang yang berukuran 2x3 meter,dan ayam goreng nelongso didirikan oleh mas nanang dan istrinya untuk mencukupi penghasilan keluarga, dan memutuskan membuka warungnya 24 jam penuh dengan pertimbangan ingin memonopoli pasar karna dirasa saat itu belum ada rumah makan yang buka penuh 24 jam dan saat itu hanya orang berjualan kopi yang mau buka sampai pagi. Dan juga dengan pertimbangan melihat lingkungan sekitar untuk jam malam masih ramai anak muda-muda nongkrong atau ngopi di pinggir jalan.

3. Ayam Sambal Bawang Mak Par
Meskipun saat ini banyak warung modern dengan segala konsep dan menu modern bertebaran di Kota Malang, lalapan Mak Par yang lokasinya juga tepat di depan Perumahan Politeknik Negeri Malang ini sejak pagi hingga sore hari selalu ramai dikunjungi pembeli, baik yang dimakan di tempat maupun yang memesan untuk dibawa pulang.
Di warung Mak Par para pelayan seolah tak pernah berhenti melayani pembeli yang datang silih berganti. Daya tarik di balik kesederhanaan menu yang disediakan lalapan Mak Par, pembeli bisa memilih sendiri bagian ayam yang diinginkan dan juga gorengan berupa tempe.
Setelah memilih bagian ayam yang diinginkan, pembeli bisa langsung memberikan kepada pelayan untuk kemudian dihidangkan dengan nasi hangat dan juga sambal.
Nah, dari sambal inilah yang menjadi daya tarik warung sederhana ini. Ada empat macam jenis sambal yang ditawarkan di lalapan Mak Par yaitu sambal kacang, sambal kecap, sambal tomat serta sambal bawang yang memiliki sensasi rasa paling pedas dibanding ketiga jenis sambal lainnya.
Aang Winata, salah seorang pembeli yang menikmati lalapan ayam di warung Mak Par ini kepada MALANGTIMES mengaku sering berkunjung untuk menikmati beragam olahan sambal disini, favoritnya adalah sambal bawang yang terkenal pedasnya.
"Cukup menggoda selera, harganya cukup murah untuk kantong mahasiswa, yang buat ketagihan sambalnya," ujar Aang yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa salah satu PTN di Kota Malang.
Meski jauh dari kosnya, ia mengaku rela datang dan antri di warung ini untuk menikmati pedasnya sambal bawang ala Mak Par.
Tak heran, ketika pengunjung menikmati lalapan ayam dengan berbagai olahan sambal, khususnya sambal bawang, bagaikan sedang 'berolahraga'. Tak sedikit karena 'saking' pedasnya hingga berkeringat dan berkaca-kaca.
Untuk menikmati lalapan ini, tak perlu merogoh kocek dalam, cukup dengan Rp 8.500, pengunjung dapat menikmati lalapan ayam plus gorengan dengan pilihan berbagai olahan sambal yang menggoda selera tentunya.

4. Lalapan Mbah Jayus

Sambal Bawang Mbah Jayus terletak di sebuah ruko di Jl Candi Sewu, sekitar 300 meter dari Universitas Widya Gama.
Untuk harga, masih tahap murah meriah dan pas dengan ukuran kantong, karena harga disesuaikan dengan lauk yang Ngalamers pilih dan banyak cabai yang digunakan. Lebih dari 10 cabai, dikenai harga khusus. Ayam Rp 7.000
Grengan Rp 1.500
Nasi putih RP 3.500
Jadi bagi Ngalamers yang hobi membakar lidah- penikmat sambal pedas dan belum pernah merasakan sego sambel mbok Djayus dan kebetulan jalan jalan di daerah Kota Malang cobalah melipir ke warung Mbok Djayus di seputaran daerah candi.
Pedesnya bikin dower…. Tapi mantep.. dan joss
So pasti perut kenyang, hati riang, mari kita pulang.
Sambal Bawang Tempe Penyet Mbah Jayus
Jl Candi Sewu Ruko No. 6 Malang
Buka mulai jam 11 siang hingga jam 3 dini hari

5. Ayam Geprek Mbok Judes

Ayam Geprek Mbok Judes ini cocok untuk Anda yang butuh porsi banyak dengan harga seminim mungkin! Seperti tagline yang ada di tempat makan ini: “Sego Sak Warek’e Sambel Sak Dhower’e”  memang bukan hanya sekadar tagline. Cukup dengan Rp10.000 Anda bisa menikmati ayam geprek dengan takaran sambel sesuai selera Anda, nasi sebanyak apapun yang Anda suka sekaligus Es Teh!
Ketika Anda masuk ke Ayam Geprek Mbok Judes, Anda langsung ke kasir untuk memesan menu sekaligus membayar di tempat. Kemudian Anda tidak segera ke tempat duduk yang ingin Anda tempati, namun ke bagian prasmanan. Ya, Ayam Geprek Mbok Judes memang menggunakan metode prasmanan, jadi Anda dapat makan sepuasnya. Meskipun Ayam Geprek Mbok Judes terhitung murah jangan khawatir untuk soal kenyamanan dan kebersihan tempat. Karena di sini tempatnya pun cukup terjaga, sehingga Anda bisa makan dengan nikmat. Selain itu dekorasinya pun membuat Anda akan terhibur, banyak gambar dan quotes yang lucu menghiasi setiap dinding di Ayam Geprek Mbok Judes.

Seni Tradisional Malang


 1. Tari topeng Malang

Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.

2. Cerita Panji
Panji Pulangjiwo adalah tokoh dari Malang,Jawa Timur yang hidup pada masa Kesultanan Mataram sedang gencar-gencarnya dalam melakukan penyatuan pulau Jawa antara tahun 1600, saat itu Kesultanan Mataram sedang dipimpin oleh Sultan Agung. Panji Pulangjiwo adalah tokoh nyata yang namanya kemudian melegenda dalam sejarah Malang. Pada perang tahun 1614 antara Malang melawan Mataram, Panji Pulangjiwo inilah yang telah berhasil membunuh Tumenggung Surantani dari Mataram.

3. Tari tradisional

Seperti halnya di Kota lain, wilayah yang kental akan sisi budayanya ini juga memiliki tarian khas. Salah satunya yakni tari Beskalan. Umumnya, tarian ini dimainkan oleh empat orang penari wanita. Nama Beskalan berasal dari kata Bakalan yang dulunya dipertunjukkan dijalanan seperti pengamen.

Ciri khas kostum yang dikenakan para penarinya yakni sanggul yang dihias dengan cundhuk menthul yang terletak pada bagian kepala penari, lalu ada selendang yang disampirkan di leher, selanjutnya ada kemben yang dipadukan dengan ilat-ilatan, dan untuk bawahan digunakan celana selutut serta kain tambahan di sisi depan dan belakang celana. Tak cukup dengan itu saja, masih ada kaos kaki putih dan gongseng di kaki
Jika tari Remo lebih menonjolkan sisi maskulin, maka tari Beskalan ini lebih menunjukkan sisi kecantikan dan kelincahan wanita. Dimana dari sisi gerakan, tarian ini terlihat lebih lincah, dinamis, dan anggun daripada tari Remo.
Untuk musik iringannya, tari yang mulai berkembang pada tahun 1930-an ini diiringi oleh kendang, jidor, dan lain-lain. Namun, seiring waktu kini tarian ini lebih banyak diiringi oleh gamelan jawa dan laras slendro.
Cikal bakal munculnya tari Beskalan ini menurut beberapa sumber sejarah yakni merupakan suatu bentuk tarian ritual yang dilakukan oleh masyarakat Malang pada zaman dahulu ketika akan membuka lahan atau mendirikan bangunan. Pada saat mengawali penggalian tanah, biasanya diadakan ritual penanaman tumbal yang sering disebut cok bakal atau lazimnya dikenal sesajen. Umumnya, tumbal yang digunakan adalah kepala kerbau. Tumbal diartikan sebagai sedekah bumi yang harus dilakukan agar terhindar dari bahaya. Juga supaya lahan yang dibuka tersebut diberi kesuburan.
Tari Beskalan yang digunakan untuk mengiringi jalannya ritual tersebut dianggap sebagai wujud rasa syukur dan rasa hormat terhadap leluhur agar dijauhkan dari bahaya dan diberkati tanah yang subur serta rejeki yang melimpah. Selain mengiringi ritual, tarian ini meruapakan salah satu yang wajib ada di acara bersih desa. Namun, hanya beberapa daerah tertentu yang membuat peraturan ini.
Layaknya tarian tradisional lainnya, tari Beskalan menggambarkan rasa syukur dan hormat kepada leluhur. Juga merupakan simbol awal dari kehidupan.
Kini, tari Beskalan sering menjadi tarian pembuka acara-acara budaya dan juga sebagai tarian selamat datang untuk menyambut tamu-tamu besar ataupun rombongan wisatawan.

Kamis, 07 September 2017

Kebudayaan Malang

1. Topeng
Di Kota Malang terdapat seni pemahatan topeng yang asli bercirikan khas Malang. Berdasarkan beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini.
Topeng ini pun sudah diperkenalkan sejak zaman kerajaan Gajayana kala itu. Para pemahat Topeng Malangan sudah turun temurun sampai sekarang, walaupun jumlahnya tidak terlalu melonjak banyak. Pada jaman dulu apresiasi pada Topeng Malang ini diwujudkan dengan bentuk pertunjukan saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan, dan hiburan pejabat tinggi kala itu.
Topeng Malang sedikit berbeda dengan topeng yang ada di Indonesia, dimana corak khas dari pahatan kayu yang lebih kearah realis serta menggambarkan karakter wajah seseorang. Ada banyak ragam dari jenis Topeng Malang yang dibuat seperti karakter jahat, baik, gurauan, sedih, kecantikan, ketampanan, bahkan sampai karakter yang sifatnya tidak teratur.
 
2. Tari Topeng Malangan

“Tari Topeng Malang” dapat diartikan sebagai gerakan badan yang berirama dengan diiringi bunyi-bunyian dengan menggunakan penutup muka yang menyerupai muka orang. Tari ini murni berasal dari Malang.
Kedungmonggo sebagai sebuah dusun di kaki gunung Kawi merupakan salah satu kantong persebaran seni budaya tari topeng Malang.
Kondisi daerah Malang secara eksternal juga didukung dengan polesan konstruksi budaya Hindu-Jawa di lokasi sekitar dusun Kedungmonggo mengingat akar sejarah kemunculan tari topeng adalah hasil ritual kebudayaan Hindu.
 
3. Bahasa Walikan 
Bahasa Walikan Malang berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan.
Jaman penjajahan, banyak pasukan Belanda yang menyusup menjadi mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang. Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK.
Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.
 
4. Bangunan Tua Bersejarah

Kawasan Ijen, siapa yang tidak kenal dengan tempat itu, karena itu telah menjadi salah satu trade mark kota malang. Bangunan Kunonya yang tertata rapi dan juga jalannya yang membuat nyaman berkendara ataupun untuk berjalan kaki. Sayang saat mulai di renovasi dan diubah ke bangunan yang lebih modern.
Di Kota Malang selain Kawasan Ijen terdapat banyak sekali bangunan tua, seperti Toko Es Krim Oen, Gereja Kayu Tangan, Rumah Makan Inggil, Wisma Tumapel, Balai kota dan lain-lain. Tapi sekali lagi sayangnya banyak yang tidak terawat. Karena itikad dari Pemkot untuk melestarikannya sangat kurang. Jika bangunan kuno tersebut kalau bisa dilestarikan akan semakin menarik minat para wisatawan local maupun wisatawan asing.

Tempat Ngopi Kekinian di Malang


1. Java Dancer Coffee
Siapa yang nggak tau Java Dancer? Bisa di bilang Java Dancer ini salah satu pelopor tempat ngopinya kera Ngalam (arek Malang) yang officially served para pecinta kopi mulai Desember tahun 2008 lalu. Saat ini Java Dancer sudah buka 2 Kedai Kopinya di Malang, salah satunya ada di daerah Jalan Jakarta, Malang, persis seberang Coffee Toffee. Dilihat dari menunya. sebagian besar menu yang ditawarkan adalah variant kopinya, so, kali ini mau cobain Madheling Syphon punya Java Dancer. Menu ini juga termasuk salah satu rekomendasi dari Java Dancer.
 2. Golden Heritage Koffe
masih pada inget awal-awal coffee shop mulai nge-hits di Malang? Golden Herritage Koffe menjadi salah satu coffee shop andalan di Malang. Sempat “menghilang” kurang lebih 2 tahun karena sedang proses hijrah ke tempat baru. Dan selama 2 tahunan itu bisa dibilang kebiasaan saya ngopi di cafe menurun drastis. Maklum, GHKoffie ini sudah jadi langganan. Walau sudah banyak bermunculan bermacam-macam coffee shop dari yang bener-bener niat bikin coffee shop sampai yang sepertinya cuma coba-coba. GHKoffie buat saya masih jadi salah satu dari 2-3 tempat ngopi di kota Malang yang layak secara tempat dan kualitas juga harganya yg tergolong murah meriah.
 Ada beberapa menu baru, dan banyak juga menu lama yang sudah tidak (belum) disajikan kembali. Tapi untuk kopi yang menjadi unggulan cafe ini tetap ada, dan variannya justru akan ditambah lagi.
Selain ada perubahan menu, yang menjadi “wah” dalam kelahiran kembali GHKoffie adalah suasana cafe nya itu sendiri. Kalau dibanding dengan tempat lama, … jauuuuuh… dan bahkan, kalau menurut saya ini cafe yg paling cantik di Malang.

3. 8 Oz Coffe Studio
 
Bertambah lagi “koleksi” cafe di Kota Malang ini, beberapa cafe baru dengan berbagai konsep dan tema bermunculan di sudut-sudut kota. Belum semua saya icip-icip sih, karena untuk icip-icip sebuah cafe saya orangnya agak picky. Gak sembarang ada cafe baru pasti saya datengin. Penampakan design dan konsep tematik cafe menjadi salah satu faktor penentu … kadang-kadang.
Satu cafe unik ini saya temukan secara tidak sengaja ketika pulang kantor, memutuskan untuk mengambil jalan tembus dari jalan Ciliwung ke jalan Tumenggung Suryo, lewat jalan Citandui kok ada penampakan lucu, setelah didekati ternyata cafe!
Akhirnya minggu kemarin kesempatan icip-icip ini datang setelah acara bukber santap Kepiting bersama keluarga hore. Walaupun perut sudah dihuni oleh kepiting dan udang, kami putuskan untuk test drive cafe baru.
Dengan range harga yang memang harga Malang, tapi dengan nuansa (katanya) Melbourne, acara nangkring malam itu berkesan. Unik! itu yang menjadi kesan pertama saya. Dan ke-unik-an itu yang harusnya dimiliki sebuah cafe, ya… selain harga dan taste tentunya
8 Oz Coffee Studio
Open Tuesday – Sunday 3PM – 11PM
Jln. Citandui 74 Malang

4. Legipait

Cafe yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi bagi Kamu, terutama para pecinta dan penggemar kuliner Kopi Malang Raya. Legipait sendiri terletak di ujung perempatan Jalan Pattimura, tepatnya di Jalan Pattimura 24. Selain menjadi tempat hangout yang mernarik bagi kalangan muda, karena lokasinya yang strategis berada di depan Hotel Helios menjadikan Cafe Legipait Malang ini juga menjadi tempat ngopi para tamu Hotel Helios.
Tempat Ngopi para remaja dan mahasiswa sepertinya cocok menjadi label Legipait karena memang disini banyak dikunjungi oleh para kawula muda Kota Malang. Menggabungkan konsep kopi, hangout dengan keramaian sukses mencuri perhatian banyak orang untuk bersantai di Legipait. Kamu yang berkunjung kesini bisa mencoba coffee arabica nya yang begitu menggoda di lidah, bukti didapatkan menurut para ahli kopi jalanan dan perkotaan, hehe. Berbagai menu kopi lainnya dapat Kamu temukan disini antara lain Cappucino, Espresso, Latte, Kopi Rempah, Kopi Tubruk dan aneka kopi lainnya. Sambil menikmati citarasa kopi khas Legipait Kota Malang, Kamu juga dapat memesan menu pedamping seperti waffel, omelette ataupun pancake. Ditambah dengan interior ruangan yang mengusung konsep jadul menjadikan suasana ngopi Kamu terasa semakin berkesan. Legipait Malang juga memberikan fasilitas pendukung seperti Free Wi-Fi bagi para pengunjungnya.
Alamat : Jalan Pattimura No. 24, Kota Malang
Jam Buka : 11.00 – 22.00 WIB

Festival-Festival di Malang

1. Festival Malang Kembali
Festival ini diadakan untuk memperingati HUT Malang yang digelar pada 21 Mei. Festival ini mengingatkan situasi dimasa lalu dan mengubah jalanan protokol menjadi museum hidup sekitar 1 minggu lamanya festival ini digelar. Festival Malang Kembali juga dikenal dengan sebutan Malang Tempoe Doeloe.

2. Karnaval Lampion


Digelar ketika merayakan hari raya masyarakat Tiongkok yaitu hari raya imlek. Karnaval lampion digelar setiap tahunnya dengan bergelarkan berbagai bentuk lampion di area Klenteng dan sekitaran kawaasn di Kota Malang yang turut merayakan. Tidak jarang juga, penampilan barongsai juga dihadirkan untuk memeriahkan acara tahunan warga Tiongkok di Kota Malang.

3. Karnaval Bunga 
Karnaval Bunga merupakan event yang menarik banyak perhatian para wiastawan. Berbagai model dan penampilan dengan tema bunga dihadirkan disini. Event Karnaval Bunga biasanya diadakan di sepanjang jalan Ijen Kota Malang dengan rute kisaran 2-3km.

4. Festival Bakso dan Cwi Mie 
 Di Malang tepatnya di Jalanan Balaikota Malang hingga Jalan Kartanegara ada kegiatan Festival Bakso dan Cwie Mie Malang 2017, Beraneka macam Bakso dan Cwie Mie khas Malang dihadirkan di acara itu. Dengan tenda warna merah yang biasa digunakan di Pasar Minggu, para pedagang Bakso di Malang berjajar rapi. Tidak hanya Bakso yang biasa berjualan dengan gaya resto, bakso yang biasa berjualan dengan berkeliling juga hadir. Pendek kata, tiga hari itu seperti mewujudkan bahwasanya Malang adalah Kota Bakso. Kegiatan festival ini sendiri adalah bagian dari kegiatan Malang sebagai tempat diselenggarakannya Rakernas Apeksi 2017. Apeksi adalah kependekan dari Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia yang digunakan untuk berbagi ilmu memajukan daerahnya.

Bangunan Vintage di Malang


 

Amazing Malang Template by Ipietoon Cute Blog Design